22.4.12

JAGA PIKIRAN KITA

John C. Maxwell, mengatakan bahwa “Sesungguhnya medan peperangan terbesar ada di pikiran manusia”. Pikiran itu sangat kuat dan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan pikiran kita. Ada pepatah yang mengatakan: ”Menabur dalam pikiran akan menuai tindakan”. Menabur dalam tindakan akan menuai kebiasaan; menabur kebiasaan akan menuai karakter dan menabur karakter akan menuai tujuan hidup.
Pikiran kita itu seperti tanah, tidak pernah memilih dan mempedulikan jenis benih apa yang hendak kita tanam. Jika kita menabur benih jagung, tanah akan meresponsnya, lalu menumbuhkannya. Begitu juga bila kita menabur benih padi atau mungkin lalang, rumput liar dan juga tanaman-tanaman pengganggu sekali pun, tanah tetap saja akan merespons benih itu dan menumbuhkannya juga.
Apa pun yang kita tanamkan dalam pikiran, entah itu hal-hal yang baik atau pun negatif, pikiran kita akan segera menerima, merespons dan menumbuhkannya. Tidak peduli hal itu akan berdampak positif atau negatif terhadap kehidupan kita membawa kepada keberhasilan atau sebaliknya menuju kehancuran. Sadar atau tidak, seringkali kita memperkatakan hal-hal buruk tentang diri kita sendiri misalnya, “hidupku penuh masalah, aku tidak akan berhasil, sakitku tidak akan sembuh, keluargaku hancur berantakan, aku bodoh, aku tidak punya apa-apa (miskin), masa depanku suram” dan sebagainya. Hal-hal negatif yang kita ucapkan itu akan direspons oleh pikiran kita dalam bentuk sikap dan tindakan, yang pada saatnya akan menghasilkan sesuatu yang sama persis seperti yang kita ucapkan. Namun bila yang kita tanam hal-hal positif: semangat atau rasa percaya diri, pikiran kita juga akan merespons hal itu ke dalam sikap dan tindakan kita sehingga hidup kita akan menjadi seperti yang kita harapkan. Oleh karenanya firman Tuhan mengingatkan, “…semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).

Healing Quote :
Biasanya kita berharap agar hari yang kita jalani adalah hari yang menyenangkan dan bermakna bagi diri kita, juga bagi orang lain. Di tempat kerja, juga di tengah-tengah keluarga. Kenyataannya tidak selalu demikian, kita justru sering mengalami dan menghadapi situasi yang kurang menyenangkan. Kita menjadi kesal, jengkel, dan marah. Kekesalan, kejengkelan dan kemarahan itu dapat dilihat dari perkataan dan perilaku kita. Dalam situasi seperti ini, biasanya kita tidak dapat bekerja dengan tenang. Kita tidak bisa mengambil keputusan tepat tetapi justru kesalahan demi kesalahan bisa saja terjadi.  Suasana hati yang tidak menentu ini kemudian terbawa ke rumah dan sedikit saja kesalahan yang terjadi di rumah akan membuat kita meledak dengan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, mungkin menyakiti hati istri, menyakiti hati suami, menyakiti hati anak, atau mungkin menyakiti hati orang tua kita yang terkena dampak kekesalan, kejengkelan dan kemarahan kita. Mengapa hal-hal seperti ini bisa terjadi? Apa akar persoalannya? Jawabannya sederhana bahwa kita harus mulai dari pikiran. Mengapa harus mulai dari pikiran? karena perkataan dan perilaku yang baik dan benar dimulai dari pikiran yang baik dan benar.
Benih yang kita tanam dalam pikiran menentukan hasil akhir kehidupan kita!
”Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” Matius 13:24


 Sumber : hmministry.com

14.3.12

Memiliki Iman Seperti Habakuk

Kitab Habakuk dimulai dengan pergumulannya melihat kehidupan bangsanya yang sangat jahat di masa itu, dan diakhiri dengan rasa kecewa yang teramat dalam kepada Tuhan. Namun, di pasal kedua, Habakuk bangkit dan menyatakan kebenaran, bahwa orang benar akan hidup karena percaya.
Habakuk, meski nabi, tetap manusia biasa yang seringkali keheranan saat menjumpai pelbagai masalah yang ada di sekitarnya. Dan, seperti manusia lainnya, ia pun bertanya, “Mengapa?”, “Berapa lama lagi?” dan lain-lain. Ini adalah problema dasar dari permalahan manusia, yakni mempertanyakan kehendak dan kedaulatan Allah dalam perlbagai masalah hidup manusia.
Memang, situasi yang dialami Habakuk saat itu demikian menyesakkan. Sebagian besar orang Israel menjalani hidup sebagai orang  fasik. Dan sisanya, orang benar, dikelilingi, dimanipulasi, dan dikuasai oleh orang Israel yang jahat. Belum lagi penjajahan orang Kasdim, yang merupakan bangsa penyembah berhala.
Yang menjadi pemicu dari keluh kesah Nabi Habakuk bukanlah kelakuan orang Kasdim, melainkan kebejatan yang dilakukan bangsa Israel, yang mengaku menyembah Tuhan tapi dalam praktiknya hidup bagai orang fasik. Begitu jahatnya kehdiupan orang Israel di masa itu, hingga mengakibatkan penderitaan yang berat di kalangan bangsa Israel. Alih-alih terus-menerus dirudung kesal, Habakuk memilih untuk mencari Tuhan, dan ia pun menemukan secercah sinar pengharapan di masa-masa gelap dalam kehidupan bangsanya itu.
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorai di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Ayat yang terdapat dalam Habakuk 3:17-18 ini adalah hasil dari perjalanan iman Habakuk, hasil dari keputusannya untuk tetap mempercayai Tuhan di masa yang sulit itu.
Di mata Habakuk, meski penderitaan tak kunjung mereda, sejarah telah membuktikan pembelaan Tuhan terhadap umatNya. Dan, Tuhan yang sama telah berjanji untuk mengegakkan keadilan. Sebab itu, masa suram yang sedang dihadapi Habakuk, tidak membuat imannya surut. Malahan, sukacita dan damai sejahtera karena mempercayai janji Allah yang tidak pernah berdusta, memberikan kekuatan untuk bertahan bahkan menyelesaikan perjalanan iman yang sulit bagai mendaki gunung terjal. 
Dengan mata iman, Habakuk melihat melampaui realitas kesulitan hidup yang dialami bangsa Israel. Dengan memandang Tuhan, Habakuk berserah dan memiliki kualitas hidup rohani yang diperbaharui. Dan dengan kaki iman, Habakuk berani dan memiliki kekuatan untuk melangkah di dalam kehidupan yang penuh dengan kesulitan. Sudahkah Anda memiliki iman seperti Habakuk?

glministry.com

27.2.12

TIPS SAAT BOSAN DI KANTOR

Mayoritas pekerja gemar mengeluh atas pekerjaan yang seolah menyiksa menjadi beban berat. Mereka begitu mudah mengucap stres saat mendapat perintah atasan, atau menghadapi beban pekerjaan yang menumpuk. Yang terjadi kemudian, mereka malas dan kehilangan semangat setiap menuju kantor.

  • Rilekskan diri Anda sejenak. Wajar jika manusia merasa bosan dengan segala rutinitasnya. Maka itu rilekskan diri Anda dengan menghirup napas panjang dan melepaskannya dengan santai. Kemudian cuci muka Anda agar menjadi lebih segar. Kegiatan simple ini dapat membantu Anda meringankan beban pikiran Anda.
  • Dengarkan musik. Pilihlah musik yang membuat Anda semakin bersemangat. Nikmati setiap baris lirik lagu yang Anda dengarkan. Bangun semangat kerja Anda kembali, hal ini dapat membantu Anda kembali bekerja dengan semangat penuh. Jika ingin sambil bersenandung jangan sampai mengganggu teman yang lain. Pakai headset jika pekerjaan Anda memperbolehkan dan memungkinkan untuk menutup sementara telinga Anda.
  • Minum atau makanlah sesuatu untuk mengisi energi Anda kembali. Biasanya bosan akan menimbulkan efek tambahan yaitu kantuk dan lapar. Kopi bisa jadi salah satu solusinya untuk mengusir kantuk atau makanlah cemilan yang dapat mengisi energi Anda kembali untuk memulai pekerjaan Anda. Setelah energi kembali pulih Anda akan lebih siap untuk kembali bekerja.
  • Alokasikan waktu untuk diri sendiri. Bisa dibayangkan rasa malas menyergap Anda harus ke kantor pagi-pagi terjebak macet. Jangan menambah beban Anda dengan hal-hal negatif, seperti bad mood. Coba nikmati pagi Anda di kantor dengan minuman panas sambil baca koran. Hari yang dimulai dengan senyuman akan lebih terasa lebih cepat berakhir.
  • Kuasai diri. Bosan akan muncul saat kita mulai lelah. Tempatkan segala sesuatu pada diri Anda secara baik, benar, dan tepat. Belajarlah untuk mengendalikan emosi Anda, jika perlu sekali-kali Anda mencoba Test ESQ (Emotional Spiritual Question). Tes ini adalah pelatihan kecerdasan emosi dan spiritual diri yang dapat membantu Anda untuk menyeimbangkan kehidupan Anda baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam karir Anda.
  • Letakkan bunga segar di meja kerja. Bunga warna- warni yang rutin Anda letakkan di atas meja bukan hanya menyegarkan mata. Sebuah penelitian menyebut, keberadaan bunga segar di dekat area kerja akan memancing ide-ide lebih cemerlang.
  • Rencanakan makan siang istimewa bersama teman. Menikmati makan siang bersama teman kantor, tentu menjadi aktivitas yang selalu ditunggu-tunggu. Saling berbagi cerita, canda tawa, sembari bertukar menu makanan cukup menjadi penawar stres. Sebuah studi yang diterbitkan American Psychological Association menyebut, bergaul dengan rekan kerja dapat menciptakan kesenangan yang berdampak pada peningkatan harapan hidup. 
  • Biasakan diri melakukan tugas multitasking. Jika Anda sudah terbiasa melakukan lebih dari satu tugas perkerjaan, maka Anda pasti mampu melakukan beraneka ragam jenis pekerjaan. Mengerjakan berbagai tugas akan membuat aktivitas Anda lebih melelahkan, namun tidak membuat Anda lekas bosan.
  • Cari hiburan di internetKetika Anda merasa bosan dengan pekerjaan yang Anda jalani, coba hibur diri sejenak dengan menyaksikan video-video lucu. Tak perlu beranjak dari meja, coba saja berselancar di YouTube. Penelitian membuktikan, karyawan cenderung melakukan pekerjaan lebih baik, setelah menyaksikan adegan-adegan lucu di kantor.
  • Istirahat dengan aktivitas menyenangkan. Penelitian menegaskan, semakin besar komitmen untuk pekerjaan, tingkat stres pun melambung. Jadi jika Anda benar-benar menggunakan semua intensitas waktu untuk bekerja, nikmatilah. Tapi jangan lupa meluangkan waktu sedikitnya 15 menit untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Ini penting untuk menyeimbangkan hidup di tengah stres tingkat tinggi.
  • Rencanakan liburan menyenangkan.Studi telah menunjukkan bahwa orang akan mengalami dorongan kebahagiaan yang lebih besar sebelum mereka pergi berlibur. Jadi jadwalkan perjalanan liburan yang menyenangkan, dan bayangkan suasana yang menyenangkan itu benar-benar terjadi setelah sibuk berkutat dengan banyak tugas kantor.
“Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya,  sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?”(Pengkothbah 3 : 22)

sumber : hmministry.com

23.2.12

Hidup bebas dari ketakutan

Mazmur 91:1-2
“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”
Penyakit menular terus saja bermunculan. Setelah flu burung muncul flu babi, entah flu binatang apa lagi yang bakal muncul sebentar lagi. AIDS masih menjadi penyakit mematikan karena hingga sekarang belum ditemukan pembunuh virus HIV. Itu bicara penyakit. Tanpa bicara mengenai berbagai penyakit menular pun dunia ini sudah berbahaya. Kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan sebagainya terus saja menghiasi halaman-halaman depan surat kabar. Penipuan, korupsi, penggelembungan dana dan sebagainya masih menjadi sajian utama dan begitu mudah kita lihat di mana-mana. Bencana alam? Itu jadi masalah tersendiri. Dimana-mana kita melihat gempa bumi, banjir, longsor dan sebagainya. Apakah anda termasuk orang yang selalu merasa was-was atau ketakutan dalam hidup? Jika ya, anda termasuk satu dari sebagian besar orang di dunia ini. Dan itu bukan salah anda, karena dunia yang kita hidupi ini memang cukup berbahaya. Tapi apakah kita harus terus hidup di dalam ketakutan dan ketidakpastian? Apakah kita harus terus merasa cemas tanpa jaminan apa-apa?
Ayat bacaan hari ini sangat baik untuk mengingatkan kita bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, yaitu Tuhan sendiri. “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” (Mazmur 91:1-2). Sudah terlalu sering kita hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Tidak heran jika pada suatu ketika kita akan menyadari bahwa kekuatan atau kemampuan manusia ini tidak lagi mampu memberi solusi terhadap permasalahan-permasalahan kita. Jika demikian, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita? Bukankah Tuhan sanggup berbuat apapun, kuasaNya sungguh tidak terbatas.
Jika anda merasa takut, bacalah Mazmur 91 dan lihatlah betapa hebatnya perlindungan yang bisa Tuhan berikan. Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3), melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4). Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5), bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6). Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10), bahkan Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11). Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13). Ini serangkaian janji Tuhan yang besar yang diberikan kepada kita agar mampu hidup di dunia yang berbahaya ini tanpa rasa takut. Ya, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini. Namun ingatlah bahwa janji itu tidak diberikan kepada siapa saja. Janji ini hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” (ay 14). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: “Kata TUHAN, “Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi.” Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya. Orang yang mengenal Tuhan adalah “orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91 tadi. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya mendapat janji perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.
Apa yang harus kita lakukan untuk itu? Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan firman Tuhan. Yesus berkata: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Doa akan mampu menguatkan iman kita dan meluputkan kita dari berbagai jebakan. Bagaimana dengan firman? Kita bisa melihat awal tulisan Yohanes. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1). Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana. Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang mustahil sekalipun. Dan anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan pasti akan membebaskan anda.
Orang yang duduk dalam lindungan Tuhan dan bermalam dalam naunganNya-lah akan luput dari segala bahaya

Sumber : akucintayesus.com

19.10.11

Ruang Salib

Ada seorang pria muda yang sedang putus asa. Merasa tak ada lagi jalan keluar, ia akhirnya memutuskan berdoa kepada Tuhan.
"Tuhan, aku tidak bisa melakukannya," ujarnya. "Aku terlalu berat menanggung salib ini."
Tuhan menjawab, "Anakku, jika kamu tidak dapat menanggung berat benda itu, turunkan saja itu di ruangan ini. Kemudian bukalah pintu yang lain dan pilih salib apapun yang kamu inginkan."
Mendengar itu, pria tersebut tersenyum bahagia. "Terima kasih, Tuhan," katanya. Ia pun menghela napas panjang, dan melakukan seperti apa yang diperintahkan.
Saat melihat ke sekeliling ruangan, ia melihat banyak salib yang berbeda; Beberapa puncaknya begitu besar sehingga tidak terlihat. Kemudian ia melihat sebuah salib kecil bersandar di dinding yang jauh. "Aku ingin yang satu itu, Tuhan," katanya dengan sedikit berbisik.
Dan Tuhan kembali menjawab, "AnakKu, ambillah salib itu. Namun Aku ingin mengatakan kepadamu bahwa sebenarnya salib itu adalah salib yang sama yang tadi kamu letakkan. Hanya saja selama ini kamu tidak menyadarinya."
Mendengar perkataan Tuhan tersebut, anak muda itu menangis dan bertobat dari segala kekeliruan yang telah ia perbuat.
Banyak dari antara kita yang mengira Tuhan menaruhkan salib yang begitu berat, yang tak mungkin dapat dipikul oleh anak-anakNya. Namun justru sebaliknya, salib yang DIA berikan adalah salib yang ringan dan mengenakkan.
Sudahkah Anda memikul salib-Nya?


Sumber : skywriting/bm/jawaban.com

6.10.11

Menjadi Orang Tua Yang Lebih Baik

Khususnya sebagai orangtua, kita juga dapat menyusun resolusi tahun baru yang positif. Yakni, menjadi orangtua yang lebih baik, khususnya bagi anak-anak titipan Tuhan, di tahun 2011 ini. Apa sajakah kiranya resolusi yang dapat diambil orangtua? Berikut adalah beberapa resolusi yang dapat menjadi komitmen Anda dan saya.

1. Lebih banyak menyediakan waktu bagi anak-anak
Mari berkomitmen dan mengusahakan untuk selalu memiliki waktu untuk bersama anak, setiap hari. Bahkan untuk bermain bersamanya, tak hanya “mencarikan mainan” atau “menemaninya” bermain di arena permainan di mal atau pusat hiburan. Sungguh-sungguh ada dan memberi perhatian bagi anak-anak. Charles Francis Adams, seorang diplomat dan tokoh politik abad 19, biasa menulis buku harian. Suatu hari ia menulis demikian: “Pergi memancing dengan anak laki-lakiku—satu hari terbuang begitu saja.” Putranya, Brook Adams, juga biasa menulis buku harian, yang masih ada hingga sekarang. Pada tanggal yang sama, Brook Adams menulis demikian: "Pergi memancing dengan ayahku—sungguh hari yang paling indah di hidupku!” Ketika pergi memancing dengan anaknya, sang ayah merasa bahwa ia sedang membuang-buang waktunya. Padahal, si anak justru merasa bahwa itulah saat paling berharga baginya.
2. Lebih banyak menepati janji, bukan sekadar mengumbar janji
Orang dewasa cenderung mudah berjanji, tetapi bisa mudah juga melupakannya—tidak menepatinya. Anak-anak dianggap sebagai pribadi yang tidak mengingat-ingat janji. Padahal kenyataannya tidak demikian. Anak-anak justru sangat memperhatikan sebuah janji yang diberikan orangtuanya dan menanti-nanti janji itu ditepati. Itu sebabnya lebih baik orangtua tidak berjanji bila belum tentu bisa menepati.  Akan tetapi sekali berjanji, misalnya akan mengajak berenang apabila ulangan umum selesai, maka janji itu harus dibayar. Bukankah janji adalah utang?
3. Lebih banyak mendengar daripada buru-buru menghakimi atau bertengkar
Kerap terjadi, ketika masalah muncul, maka orangtua menjadi suara yang paling dominan untuk bicara. Mencoba menyelesaikan masalah anak, walau kadang belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, penghakiman yang tidak benar, justru bisa melukai hati.  Maka, ada baiknya kita mencoba menahan diri, dan mendengar dulu apa yang dikatakan anak-anak. Ini justru melatih anak untuk berani berkata benar, dan berani bersikap benar ketika masalah terjadi.
4. Lebih banyak melihat kelebihan, daripada kekurangan anak
Merasakan adanya duri di tengah rumpun mawar memang terasa lebih mudah daripada melihat si mawar cantik di tengah rumpun itu. Melihat kelemahan dan keburukan anak sering juga terasa lebih mudah daripada melihat dan mensyukuri kelebihan anak-anak kita. Ubahlah kacamata ”negatif” kita dengan kacamata ”positif” yang menolong kita untuk lebih banyak menghargai anak kita karena kelebihan-kelebihannya—yang ketika semakin kita hargai, maka kelebihan itu semakin berkembang. Daripada menyoroti kelemahannya terus, hingga kelebihannya pun malah ikut terkikis hilang.
5. Lebih banyak memberi teladan, daripada menuntut
Anak-anak serupa dengan semen basah. Apa saja yang ”jatuh” di atasnya, akan meninggalkan kesan yang ”tercetak” di sana. Apa saja yang dilihat dan didengarnya setiap hari dari perbuatan dan perkataan kita sebagai orangtua, itulah yang akan ”mencetak” kepribadian dan cara hidupnya. Taruhkan banyak kesan positif di hidupnya. Kondisi seperti apa yang Anda ingin ada dalam hidup anak Anda, itulah yang harus Anda hidupi dan tularkan kepadanya.  Kita tak dapat menuntut sebuah tanaman ”berbuah baik”, bila kita tak menabur dulu ”benih yang baik” itu.
6. Lebih banyak minta maaf dan memaafkan
Banyak konflik tak terhindari dalam keluarga. Bahkan termasuk dengan anak-anak. Akan tetapi, konflik sebesar apa pun sesungguhnya akan terselesaikan bila ada satu pihak yang mulai mengalah dan meminta maaf. Bila pun anak-anak yang salah, kerendahan hati orangtua untuk meminta maaf lebih dulu, akan menolong anak untuk melihat masalah dengan lebih jernih. Masalah pun lebih cepat selesai. Apalagi kalau anak kemudian menyadari kesalahannya, biarlah orangtua cepat untuk memaafkan sehingga anak pun mengerti bahwa orangtuanya sungguh mengasihinya.
7. Lebih banyak memercayai, daripada menyangsikan
Ketika anak-anak kita minta belajar bertanggung jawab, maka ia perlu latihan untuk bisa melakukannya. Jika kita memintanya belajar membawa gelas kaca, mungkin kita perlu merelakan satu-dua gelas pecah sebelum ia bisa melakukannya dengan baik. Jangan terus menyangsikan apakah anak bisa melakukan sesuatu, sehingga kita terus melakukan tugas itu untuknya. Maka, ia takkan pernah bisa melakukannya. Ini bukan saja tentang membawa gelas.  Namun tentang mengambil keputusan, tentang kemandirian, tentang pengambilan tanggung jawab.
8. Lebih banyak menemukan talenta anak, daripada memaksakan keinginan orangtua
Jadilah orangtua yang lebih baik dengan lebih banyak melihat talenta dan karunia khusus yang dititipkan Tuhan dalam diri anak-anak kita. Lalu membantu dan mendukungnya mengembangkan talenta tersebut secara maksimal. Bahkan bila bakat dan kemampuannya sama sekali tidak sama dengan apa yang kita miliki, tidak sama dengan yang kita inginkan. Bila dulu kita bercita-cita ingin jadi penari balet, tetapi anak perempuan kita cenderung ”tomboy”, maka memaksanya menari balet hanya memancing masalah. Bahkan membuat kita tak dapat melihat kelebihannya di bidang lain.
9. Lebih banyak mematikan TV, agar dapat berbicara dari hati ke hati
Televisi kerap kali mencuri waktu kita bersama keluarga. Banyaknya stasiun TV dan program menarik yang ada di TV membuat banyak keluarga—sadar atau tak sadar—terus menerus menyalakan TV di rumah. Bahkan, banyak keluarga telah menjadikan TV sebagai ”pengasuh anak”, yang sanggup membuat anak tenang selama berjam-jam. Padahal, segala sesuatu yang hanya ”ditonton” sama sekali tak membuat otak anak menjadi aktif, justru sebaliknya, menjadi pasif. Cobalah untuk mematikan TV, dan lihatlah bahwa tiba-tiba saja kita memiliki waktu untuk saling mendengar dan saling berkomunikasi. Lihatlah bahwa anak-anak dapat melakukan lebih banyak hal lain yang lebih berguna dan mengaktifkan otaknya bekerja. Misalnya saja, membaca buku.
10. Lebih banyak memeluk dan menunjukkan kasih kepada anak-anak
Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk orangtuanya, akan tumbuh sehat. Mereka cenderung merasa nyaman dan lebih percaya diri. Bahkan, janin yang masih di kandungan pun sangat menyukai sentuhan kasih orangtuanya. Ia cenderung mengalami pertumbuhan yang bagus. Dan kelak, tumbuh menjadi seorang penyayang. Maka, daripada lebih banyak menuding anak dan mematikan kepribadiannya, mari lebih banyak memeluk dan memberi kehangatan kasih bagi anak-anak kita. Rasakan bahwa mereka adalah karunia tak ternilai dari Yesus, yang mempercayai kita untuk mengasihi mereka.
11. Lebih banyak mendampingi anak untuk bertumbuh secara rohani
Yang terakhir, tetapi justru yang terpenting, Tuhan memercayai kita menjadi orangtua agar kita mendampingi anak untuk mengenal, mempercayai, dan mengasihi Yesus. Maka, mari berkomitmen untuk mengajarinya berdoa. Mengajarinya membaca Alkitab. Membimbingnya menaati firman Allah. Menuntunnya untuk mengerti karya Kristus bagi hidupnya. Mengajarnya untuk mengandalkan Tuhan sebagai Pribadi yang selalu dekat di hatinya. Mengajarinya berkata, bertindak, berpikir, sebagaimana Yesus inginkan. Tentu hal-hal ini meminta waktu, energi, dan pikiran kita. Namun, inilah peran terbesar yang dapat kita berikan sebagai orangtua. Bahwa urusan kita sebagai orangtua tak berakhir di dunia yang fana ini saja, tetapi perlu dipertanggungjawabkan hingga di kekekalan.

6.3.11

Dibalik Gerakan Antikris Microchip Mondex

Setiap tahunnya isu tentang akhir jaman selalu menempati urutan teratas wacana kekristenan juga tiap agama didunia. Berbagai macam forum diskusi digelar juga perang tafsir dalam cetakan buku hingga Hollywood pun tahun lalu melempar film 2012 untuk memuaskan dahaga setiap orang akan jawaban hari akhir yang hanya diketahui Tuhan saja. Dunia teknologi informasi tentu saja menjadi perhatian utama dalam penyebaran produk yang berhubungan dengan gerakan antikris yang diidentikan muncul jelang hari kiamat.
Produk baru yang dikabarkan sebagai produk antikris yang sedang beredar untuk mempengaruhi pere-konomian dunia dinamakan Microchip Mondex.  Mondex singkatan dari monetary dan dexter,  yang berarti berhubungan dengan uang dan menunjuk kepada lokasi tertentu di tangan kanan manusia, sesuai kamus Webster. Nama ini diadopsi sebuah perusahaan yang menyediakan sistem pembayaran tanpa uang tunai. Sistem Mondex dengan basis kode bar “666” ini, diwaspadai digunakan gerakan antikris untuk mengontrol dan menguasai sistem perekonomian serta keuangan dunia.
Sistem ini diciptakan pada 1993 oleh seorang bankir London bernama Tim Jones, bekerja sama dengan Graham Higgins dari Natwest Coutts. Sistem ini didasarkan atas teknologi Smart Card (teknologi yang dipakai oleh SIM Card pada handphone) dan kartu kredit, yang memakai microchips untuk menyimpan informasi elektronik seperti pembayaran, identifikasi maupun bermacam-macam informasi penting lainnya. Simon Davis, seorang dari peneliti Mondex mengatakan bahwa saat ini Mondex sedang memonitor semua transaksi sebagai proyek percontohan yang akan menembus kebiasaan hukum perdagangan bebas.
Microchip Mondex yang tertanam dalam tubuh manusia menyimpan kode 666. Mereka yang memakai microchip ini mendapat fasilitas khusus. Mereka tinggal meletakkan tangan mereka di atas scanner komputer dan semua transaksi jual beli dapat dilakukan dengan otomatis tanpa menggunakan uang tunai. Hal ini dianggap akan dipakai antikris dalam mengontrol dan menguasai keuangan perekonomian dunia, berdasarkan kode 666 seperti yang tertulis dalam Wahyu 13:16-18.
Pdt. Yuda D Mailool, pendiri Yehuda Gospel Ministry berpendapat bahwa sebenarnya sistem seperti Mondex, sudah ada sejak 1990-an. Pemasangan chip sebenarnya adalah sebuah sistem yang bertujuan mempermudah manusia dalam masalah administrasi dan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Memang golongan antikris suatu saat nanti akan memanfaatkannya.  “Nantinya, antikris akan menggunakan semua sistem ini untuk kepentingannya, tetapi bukan sekarang. Suatu saat nanti, antikris akan memanfaatkan sistem chip untuk memaksa manusia dan mengontrol manusia, supaya takluk di bawah kehendaknya,” papar Mailool.



JAWABAN.COM

Arsip Blog